WAYANG LEMAH DALAM UPACARA NGENTEG LINGGIH DI PURA AGUNG PURNASADHA TOLAI

  • Wayan Sutarman STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah
  • I Nyoman Suparman STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah
  • Ketut Yasini STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah
Keywords: Wayang Lemah, Ngenteg Linggih

Abstract

Upacara ngenteg linggih memiliki nuansa religius magis karena terkait dengan keyakinan tentang dewa yadnya. Kekhasan inilah yang menjadikan pelaksanaan upacara ngenteg linggih harus dirangkaikan dengan pementasan wayang Lemah.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1). Fungsi Pementasan Wayang Lemah Dalam Upacara Ngenteg Linggih?. 2). Nilai Pendidikan  Agama Hindu Pada Pementasan Wayang Lemah Dalam Upacara Ngenteg Linggih? Penelitian ini memiliki tujuan yaitu: 1). mengetahui fungsi pementasan wayang lemah dalam upacara ngenteg linggih. 2). Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan agama hindu yang terkandung dalam pementasan wayang lemah. Teori yang digunakan untuk membedah permasalahan adalah Teori Struktural fungsional dan Teori Nilai. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian: dalam Pementasan Wayang Lemah pada Upacara Ngenteg Linggih Di Pura Purnasada Tolai memiliki fungsi yaitu: (1) Wayang Lemah Sebagai Wali Upacara, (2) Wayang Lemah sebagai balih-balihan (hiburan), (3) Wayang Lemah Sebagai Fungsi Sosial. Nilai Pendidikan Hindu yang terkandung yaitu: pertama nilai pendidikan Tattwa pada proses pelaksanaan, nilai pendidikan Etika, yang meliputi tiga aspek, yaitu aspek pikiran, perkataan, dan perbuatan. Hindu mengajarkan bahwa apa yang dihasilkan oleh pikiran (manacika) harus selalu suci (parisudha), dan wacika parisudha dan nilai pendidikan estetika yaitu unsur keindahan pementasan wayang lemah yang dilaksanakan siang hari.

References

Arcita, I Putu Widi Sandi. 2018. Bentuk Dan Nilai Pendidikan Pada Wayang Sapuh Leger Dalam Upacara Bayuh Oton Di Desa Astina Kecamatan Torue Kabupaten Parigi Moutong.Skripsi (tidak diterbitkan).Palu: Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Sentana Sulawesi Tengah.

Anwar, L. PH,Wadjis, tt. Nilai Filsafat Dalam Dunia Modern ini. Alumni Nadung.

Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Edisi Revisi V). Jakarta : Rineka Cipta.

Geertz, Clifford, 1992. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Konisius.

Kaelan, 2005. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat. Yogyakarta : Kanisius.

Koentjaraningrat, 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

___, 2002. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan . Jakarta : Pt Gramedia.

Lorenz, Bagus, 2000. Kamus Filsafat. Jakarta : PT Gramedia.

Miles & Huberman. A. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia.

Moleong, Lexi J., 2004. Metodelogi Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja Rosdakarya.

Mudyahardjo Radja. 2002. Pengantar Pendidikan Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-Dasar Pendidikan di Indonesia. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.

Nasution., S, 2004. Metode Reseatch. Jakarta : PT. Bumi Putra Aksara.

Nazir, Moh., 1988, Metode Penelitian, Jakarta : Ghalia Indonesia.

Poerwadarminta, WJS., 1986. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia.

Punyatmadja Drs, I B, Oka 1976. Panca Sradha. Denpasar Parisadha Hindu Dharma Pusat.

Sarwanto. (2007, november 07). Kupas Makna Wayang Dalam Upacara Bersih Desa Hantar Sarwanto Raih Doktor. Retrieved januari 13, 2020, from kupas-makna-wayang-dalam-upacara-bersih-desa-hantar-sarwanto-raih-doktor: https://ugm.ac.id/id/berita/8-kupas-makna-wayang-dalam-upacara-bersih-desa-hantar-sarwanto-raih-doktor

Sonhadji, Waspodo. 1994, Modernisasi Dan Globalisasi: Studi Pembangunan dalam Perspekqf Global, Malang: Insan Cendekia.

Soemargono, Soejono, 2004. Louis O.Kattsoff: Pengantar Filsafat. Yogyakarta : Tiara Wacana.

Supriadi, I Nengah.2014.Peran Orang Tua dan Tokoh Masyarakat dalam Memberikan Pengetahuan Etika Berperilaku Generasi Muda Hindu di Dusun Wongaya Desa Suli Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi Moutong.Skripsi (Tidak diterbitkan).Palu:Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Sentana Sulawesi Tengah.

Tarigan, Suyitno, 1986. Sastra Tata Nilai dan Exsegesis. Yogyakarta : PT Hanindita.

Triguna, IBG. Yudha, 2000. Teori tentang Simbol. Denpasar: Widya dharma.

Watra, I Wayan. 2006. Filsafat Wayang dalarn Panca Yajna. Surabáya:

Paramita.

Wijayananda, Ida Pandeta Mpu Jaya, 2004. Makna Filosofis Upacara dan Upakara. Surabaya : Paramita.

Published
2021-06-23
How to Cite
Sutarman, W., Suparman, I. N., & Yasini, K. (2021). WAYANG LEMAH DALAM UPACARA NGENTEG LINGGIH DI PURA AGUNG PURNASADHA TOLAI. Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama Dan Kebudayaan Hindu, 12(1), 85-100. https://doi.org/10.36417/widyagenitri.v12i2.343