Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu http://jurnal.stahds.ac.id/widyagenitri <p><strong>Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu</strong> adalah jurnal yang diterbitkan oleh STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah mengundang para peneliti, dosen dan praktisi untuk mengirimkan artikel hasil penelitian dan pengabdian yang berkaitan dengan Agama dan Kebudayaan. Jurnal ini pertama kali terbit pada tahun 2012 dengan terbitan setiap 6 bulan (dua kali setahun) dan telah memiliki nomor e- ISSN : <span style="font-size: small;"><a href="http://u.lipi.go.id/1564454527" target="_blank" rel="noopener"><span style="font-family: helvetica;"><span style="font-family: helvetica;">2685-7189</span></span></a></span> p-ISSN:<a href="http://u.lipi.go.id/1353216962" target="_blank" rel="noopener"> 2302-9102 </a></p> STAH Dharma Sentana Sulawesi Tengah en-US Widya Genitri : Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Hindu 2302-9102 <p>Tulisan/artikel yang dimasukan diasumsikan tidak mengandung bahan proprietary yang tidak dilindungi oleh hak paten atau aplikasi paten. Tanggung jawab untuk konten teknis dan untuk perlindungan dari bahan proprietary merupakan tanggung jawab penulis dan organisasi yang mereka dan bukan tanggung jawab Widyagenitri dan staff redaksi nya. Penulis utama (Pertama/yang sesuai) bertanggung jawab untuk memastikan bahwa artikel tersebut telah dilihat dan disetujui oleh penulis lain. Ini adalah tanggung jawab penulis untuk mendapatkan semua Izin pelepasan hak cipta yang diperlukan untuk penggunaan setiap materi berhak cipta dalam naskah sebelum pengajuan.</p> SAMADHI PADA: SEBUAH METODE PENCERAHAN DI AWAL PEMBELAJARAN (PERSPEKTIF YOGA SUTRA PATANJALI) http://jurnal.stahds.ac.id/widyagenitri/article/view/350 <p>Dalam teks Sutra Patanjali khususnya Bab Samadhi Pada membahas tentang kebenaran hidup, Rsi Patanjali menempatkan bab ini diawal sutra, fungsinya untuk mengenalkan awal perjalanan Yoga. Yoga merupakan sebuah proses menuju Vashyatmana yang berarti mereka telah menguasai pikirannya. Pikiran ini akan selalu berubah-ubah dan membawa kita ke dalam hal yang akan menyebabkan sebuah penderitaan maupun kebahagiaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi, kemudian pada penelitian ini menggunakan teori hermeneutika. Temuan dari penelitian ini adalah di dalam ajaran Sutra Patanjali, khususnya Bab Samadhi Pada membahas tentang lima perubahan dalam pikiran, yaitu: Pengetahuan Yang Benar (Pramana), Pengetahuan Yang Tidak Benar (Viparyaya), Khayalan (Vikalpa), Tidur (Nidra) dan Ingatan (Smrtayah). Kelima macam perubahan inilah sumber dasar dari fluktasi atau modifikasi pikiran yang dapat menyebabkan penderitaan maupun kebahagiaan. Dari kelima macam perubahan ini teks Sutra Patanjali mengajarkan kita sebuah pengetahuan yang benar. Perubahan-perubahan yang terjadi pada pikiran itu perlu dilengkapi dengan berbagai metode untuk mengatasinya agar tidak salah dalam memahami berbagai perubahan yang terjadi dan mampu mengendalikan pikirannya sendiri. Saat pikiran dapat dikendalikan, proses pembelajaran dan internalisasi nilai-nilai pendidikan menjadi lebih lancar dan mudah.</p> Agus Ari Sumerta Putri Ramuja Dewi Sugata I Gusti Made Widya Sena I Nyoman Subagia ##submission.copyrightStatement## 2020-06-29 2020-06-29 11 1 1 16 10.36417/widyagenitri.v11i1.350 PENGARUH SIKAP DAN GENDER TERHADAP PRESTASI BELAJAR AGAMA HINDU DI SMA http://jurnal.stahds.ac.id/widyagenitri/article/view/310 <p>Prestasi belajar merupakan tolak ukur kemampuan siswa setelah melakukan kegiatan belajar selama periode waktu tertentu. Prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sikap dan gender. Sikap adalah suasana saling ketergantungan yang merupakan kewajiban untuk menjamin keberadaan manusia. Gender merupakan <em>behavioral differences </em>(perbedaan perilaku) antara perilaku laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial. Perbedaan sikap dan gender yang dimiliki masing-masing siswa memunculkan prestasi belajar yang berbeda-beda pula, seperti halnya sikap dan gender mempengaruhi prestasi belajar Agama Hindu di SMA Negeri 1 Torue. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu adakah pengaruh positif sikap dan gender terhadap prestasi belajar Agama Hindu di SMA Negeri 1 Torue. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh positif sikap dan gender terhadap prestasi belajar Agama Hindu di SMA Negeri 1 Torue. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data menggunakan metode angket/kuesioner dan dokumentasi, setelah data diperoleh peneliti menganalisis data untuk mencari kebenaran data dengan menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik serta uji hipotesis. Selanjutnya data dipaparkan dan ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama (simultan) variabel Independen (X<sub>i</sub>) berpengaruh sangat nyata terhadap variabel dependen (Y), yang ini ditunjukkan dengan nilai F<sub>hitung</sub> sebesar 4,078 &gt; F<sub>tabel</sub> α=5% (1,68). Nilai koefisien determinasi (R<sup>2</sup>) sebesar 0,129 menunjukkan bahwa persentase sumbangan pengaruh variabel bebas&nbsp; sebesar 12,90%, hal ini menunjukkan bahwa 12,90% prestasi belajar Agama Hindu dipengaruhi oleh sikap dan gender, sedangkan 87,10% disebabkan oleh faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian.&nbsp;</p> I Komang Kartia ##submission.copyrightStatement## 2020-06-29 2020-06-29 11 1 17 28 10.36417/widyagenitri.v11i1.310 PRAKTIK SPIRITUAL SEBAGAI KOMODITI SOSIAL DALAM ERA GLOBALISASI http://jurnal.stahds.ac.id/widyagenitri/article/view/346 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Praktik spiritual menjadi sebuah jalan yang dapat meningkatkan kesadaran seseorang terhadap dirinya, kemampuan penerimaan diri dan orang lain serta kepuasan hidup secara menyeluruh. Memang inti agama adalah spiritualitas, tetapi spiritualitas sendiri bukanlah agama. Globalisasi telah mengubah cara pandang orang dalam menghadapi berbagai hal, termasuk dalam hal spiritual. Perubahan itu dialami oleh semua agama seiring pertumbuhan dan perkembangan praktik-praktik spiritual. Ketika praktik-praktik spiritual yang semula menjadi hal yang sakral, namun hadirnya era Globalisasi memberikan pemaknaan yang tidak bisa dijadikan sebagai acuan yang pasti. Tidak mampu lagi manusia membedakan mana yang profan dan sakral, mana yang tidak dalam dan dangkal, karena semua hadir dalam ruang yang campur aduk, tidak hanya dalam budaya, hiburan, pendidikan bahkan nilai-nilainya dan agama pun mengalami komodifikasi. Perkembangan spiritual yang begitu pesat tidak terlepas dari permintaan konsumen dan berbagai dukungan publikasi baik melalui media cetak maupun elektronik.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kata kunci: praktik spiritual, komoditi sosial dan globalisasi</p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Spiritual practice becomes a path that can increase one's awareness of himself, the ability to accept oneself and others as well as overall life satisfaction. Indeed the core of religion is spirituality, but spirituality itself is not religion. Globalization has changed the way people look at dealing with various things, including in spiritual matters. This change is experienced by all religions as the growth and development of spiritual practices. When the spiritual practices that were originally sacred, the presence of the Globalization era gives a meaning that cannot be used as a definite reference. Humans are no longer able to distinguish between profane and sacred, which are not deep and shallow, because all are present in a mixed space, not only in culture, entertainment, education, even values </em><em>​​</em><em>and religion are experiencing commodification. The rapid spiritual development is inseparable from consumer demand and various support for publications both through print and electronic media.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>Keywords: spiritual practices, social commodities and globalization </em></p> Made G Juniartha ##submission.copyrightStatement## 2020-07-01 2020-07-01 11 1 29 43 10.36417/widyagenitri.v11i1.346 KEDUDUKAN DAN PERAN BADAN PENYIARAN HINDU DALAM PEMBINAAN KEHIDUPAN KEAGAMAAN DI INDONESIA http://jurnal.stahds.ac.id/widyagenitri/article/view/352 <p>Penelitian ini bertema tentang tempat penyiaran dewan Hindu di Indonesia. Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif desain untuk garis besar posisi terkait Badan Penyiaran Hindu (BPH). Penelitian ini dilakukan di BPH Pusat, BPH Banten dan BPH DKI Jakarta. Proses mengumpulkan data dalam studi ini melalui: pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Temuannya adalah Kedudukan Badan Penyiaran Hindu dalam keorganisasian umat Hindu saat ini berada dibawah naungan Parisada, jika BPH Pusat berada dibawah Parisada Pusat dan BPH Provinsi berada dibawah Parisada Provinsi. Secara hierarkis BPH berada dibawah Parisada setempat, secara koordinasi BPH Pusat mempunyai hubungan dengan seluruh BPH Daerah. Untuk mencapai tingkat kemantapan sebuah organisasi, perlu dilakukan tahapan-tahapan yang lebih matang. Terutama kesiapan organisasi dalam menghadapi tantangan-tantangan internal maupun eksternal. Pada dasarnya bahwa kemantapan kondisi terbentuk berkat pertukaran yang berlangsung terus menerus, antara pengaliran energi yang masuk kedalam sistem dan pengaliran keluar produk dari sistem ke lingkungan.</p> Untung Suhardi Lusiana Oktaviani I Made Biasa Indra Prameswara ##submission.copyrightStatement## 2020-06-30 2020-06-30 11 1 44 59 10.36417/widyagenitri.v11i1.352 PELAKSANAAN UPACARA MAGEDONG-GEDONGAN MENURUT AJARAN AGAMA HINDU http://jurnal.stahds.ac.id/widyagenitri/article/view/344 <p>Ajaran Agama Hindu meliputi tiga kerangka yaitu filsafat, etika dan upacara. Dalam pelaksanaannya diimplementasikan oleh umat Hindu secara utuh. Biasaya yang sering dilaksanakan adalah bentuk upacaranya. Upacara <em>magedong-gedongan</em> adalah upacara bayi dalam kandungan yang disucikan oleh umat Hindu. <em>Magedong-gedongan</em> berasal dari kata “<em>gedong</em>” yang berarti <em>gua garba</em>. <em>Gua</em> artinya &nbsp;pintu yang ada di dalam, <em>garba</em> artinya perut. Jadi, <em>gua garba</em> artinya pintu yang dalam &nbsp;berada pada perut ibu. Dalam hal ini yang dimaksud kehidupan pertama itu adalah bayi. Untuk keselamatan bayi dalam perut ibu inilah dilakukan upacara <em>magedong-gedongan</em>. Pada waktu hamil telah menginjak umur 6 bulan <em>saka</em> maka para <em>Dewata</em> telah lengkap menganugrahi organ tubuh manusia (<em>lontar Angastyaprana),</em> maka calon ayah dan calon ibu sudah menyiapkan diri untuk melakukan upacara <em>magedong-gedongan </em>memohon keselamatan bayi dan ibunya.</p> Ni Luh Ayu Eka Damayanti ##submission.copyrightStatement## 2020-06-30 2020-06-30 11 1 60 70 10.36417/widyagenitri.v11i1.344 PERSEPSI UMAT HINDU TENTANG HARI RAYA KUNINGAN DI DUSUN LUMBUNG SARI LEMO DESA KASIMBAR PALAPI KECAMATAN KASIMBAR KABUPATEN PARIGI MOUTONG http://jurnal.stahds.ac.id/widyagenitri/article/view/332 <p>Rumusan masalah, yaitu (1) Bagaimanakah Historis Hari Raya Kuningan bagi Umat Hindu di Dusun Lumbung Sari Lemo Desa Kasimbar Palapi Kecamatan Kasimbar&nbsp; Kabupaten Parigi Moutong? (2) Bagaimanakah Persepsi Umat Hindu tentang Hari Raya Kuningan di Dusun Lumbung Sari Lemo Desa Kasimbar Palapi Kecamatan Kasimbar Kabupaten Parigi Moutong? Tujuan yaitu: Untuk mengetahui Historis hari raya Kuningan pada Umat Hindu di Dusun &nbsp;Lumbung Sari Lemo Desa Kasimbar Palapi Kecamatan Kasimbar Kabupaten Parigi Moutong. Untuk mengetahui Persepsi Umat Hindu tentang hari raya Kuningan di Dusun Lumbung Sari Lemo Desa Kasimbar Palapi Kecamatan Kasimbar Kabupaten Parigi Moutong. Metode kualitatif. Teori religi dan teori tindakan.&nbsp; Informan teknik <em>purposiv sampling</em>. Pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan study kepustakaan, teknik analisis data adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.</p> <p>&nbsp;Hasil penelitian sebagai berikut: a). Tradisi nenek moyang, b). Proses pernikahan, c). Pengaruh lingkungan. Penyebab Persepsi &nbsp;yaitu: a).ucapan rasa terima kasih kepada leluhur, b). Kemenangan Dharma melawan Adharma, c).Hari raya biasa.</p> kade widia wati I Komang Mertayasa I Made Sukarta ##submission.copyrightStatement## 2020-07-01 2020-07-01 11 1 71 78